“Satu hal yang paling menyayat hati saya sebagai seorang guru adalah mendengar kabar bahwa murid perempuan saya berhenti sekolah dan menikah di usia yang begitu muda. Sekolah sering kali terasa hanya seperti tempat singgah sebelum menikah.”
Kata-kata ini mencerminkan realitas yang dihadapi sehari-hari oleh Ibu Yima, seorang guru di SMPN 33 Buton, sebuah sekolah menengah pertama negeri di Kabupaten Buton. Selama bertahun-tahun, ia telah menyaksikan banyak murid perempuannya meninggalkan bangku sekolah untuk menikah saat masih di bawah umur. Ia tidak hanya mengkhawatirkan pendidikan mereka yang terhenti, tetapi juga kesiapan mereka untuk membangun dan menjalani kehidupan berkeluarga di masa depan.

Harapan mulai tumbuh ketika Taman Bacaan Pelangi memperkenalkan proyek Girl Empowerment di sekolahnya. Bagi Ibu Yima, program ini menghadirkan kesempatan langka bagi para siswi untuk mendapatkan ruang belajar yang berbeda—ruang untuk berpikir, berdiskusi, dan membayangkan masa depan yang lebih luas daripada pernikahan dini. Atas rekomendasi kepala sekolah, Ibu Yima dipercaya menjadi salah satu fasilitator proyek, sebuah peran yang ia terima dengan penuh semangat.

Setelah mengikuti pelatihan fasilitator yang diselenggarakan oleh Taman Bacaan Pelangi, Ibu Yima mulai memimpin berbagai kegiatan proyek di sekolahnya. Selama lima bulan berikutnya, ia mendampingi 23 siswi melalui rangkaian aktivitas yang dirancang untuk membangun kepercayaan diri, menumbuhkan cita-cita, dan memperkuat keterampilan hidup mereka.

Ibu Yima menjalankan peran ini dengan sepenuh hati. “Saya benar-benar bahagia bisa menjadi bagian dari gerakan ini,” tuturnya. “Saya melihat bagaimana modul dan kegiatan yang ada mampu memotivasi anak-anak perempuan ini untuk bermimpi dan mengambil langkah nyata untuk meraih cita-cita mereka. Meskipun kami jauh dari keramaian kota, saya berharap mereka bisa bermimpi setinggi mungkin melampaui batasan desa tempat kami.”






