Di saat keadaan mesih normal dan baik-baik saja, anak-anak yang secara rutin berkunjung ke perpustakaan TBP yang ada di sekolah mereka. Mereka bisa memilih buku yang mereka suka. Mereka juga bisa membaca dengen gaya masing-masing. Ada yang membaca sambil rebahan, bersama teman seumuran, maupun sendirian.

Akan tetapi, sejak merebaknya virus Covid-19 di hampir seluruh Indonesia, otomatis sekolah pun ditutup untuk menghindari penyebaran virus. Selama pandemik ini, semua kunjungan dan kegiatan belajar mengajar di sekolah dihentikan. Menurut instruksi dari Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, Nadiem Makarim, guru-guru diharapkan untuk menerapkan pembelajaran jarak jauh melalui media daring.

Pertanyaannya adalah apakah isntrusksi ini relevan untuk semua sekolah dan guru di Indonesia yang masih memiliki ketimpangan dalam akses terhadap internet. Selain itu, Mas Menteri mungkin lupa kalau tidak semua guru di Indonesia dibekali atau memiliki bekal yang cukup untuk mengadakan pembelajaran jarak jauh atau secara daring.


Oleh Karena itu, beberapa sekolah mitra TBP berinisiatif untuk melakukan kunjungan rutin ke rumah anak didiknya. Kunjungan inipun dilakukan dalam syarat protokol kesehatan yang harus ditaati, seperti memakai masker, menjaga jarak 1-2 meter, dan menghindari berjabat tangan.

Terlepas dari semua tantangan yang dihadapi oleh guru-guru dalam mengajar anak-anak, kami menemukan kepala sekolah, guru, dan pustakawan/wati di sekolah mitra berinisiatif untuk membawa perpustakaan ke rumah anak-anak. :))
Mereka membawa koleksi buku dari rumah ke rumah untuk melayani peminjaman dan kegiatan membaca di rumah masing-masing.

Bapak Philipus Embu, kepala sekolah di SDI Barai 1, Ende Memulai inisiatif ini karena beliau mengakui bahwa sekolahnya dan desa tempatnya tinggal tidak kondusif untuk melakukan pembelajaran secara daring. Orang tua murid juga masih banyak yang berasal dari kelas ekonomi bawah, sehingga tidak memiliki ponsel pintar.

Ada juga Ibu Irene Aibekob, pustakawati SDN 29 Perumnas 100, Raja Ampat, Papua Barat yang berinisiatif membawakan buku bacaan kepada anak-anak murid. Ibu Irene menyimpan buku-buku tersebut di dalam Noken yang setia menemaninya selama ini. Untuk anak-anak yang rumahnya tidak terlalu jauh dari sekolah, Ibu Irene mendatangi mereka dengan berjalan kaki, sedangkan untuk anak-anak yang rumahnya agak jauh, Ibu Irene mengendarai sepeda motor untuk menjangkau mereka.

Berbeda lagi dengan cerita Ibu Heronima Lende, Pustakawati SDK Kalelapa di Sumba Barat. Mengingat jarak rumah anak-anak yang saling berjauhan, bahkan ada yang di tengah-tengah kebun, Ibu Roli (begitu ia sering disapa) membutuhkan waktu dan tenaga yang lebih untuk menjangkau anak-anak. Ibu Roli berangkat mengendarai motor untuk melayani anak-anak sekolahnya. Sungguh membutuhkan dedikasi untuk melakukan pekerjaan yang melelahkan ini, bukan?

Jadi, selama pandemik ini perpustakaan yang datang menghampiri anak-anak di rumah mereka dalam wujud kepala sekolah, guru, dan pustakawan/wati. Mungkin kesenangan yang dirasakan berbeda dari yang mereka sering dapatkan saat membaca di perpustakaan.

Terima kasih untuk Bapak dan Ibu guru di sekolah mitra yang sudah berdedikasi dan mengerjakan tugasnya dengan sepenuh hati. Semoga semua yang kalian lakukan selama pandemik ini bisa menjadi inspirasi bagi tenaga pendidik dimanapun berada.

Untuk pemerintah, khususnya Kementrian Pendidikan Kebudayaan, harapan kami adalah supaya Mas Menteri beserta jajarannya bisa lebih peduli untuk mengenal konteks di daerah yang berbeda-beda sebelum menetapkan kebijakan baru. Kami percaya konteks sangat penting sekali untuk dipertimbangkan, seperti kebijakan belajar daring yang sering digemakan, yang pada tahap implementasinya tidak bisa maksimal karena banyak kendala di lapangan.

Mungkin Mas Menteri sudah bisa mempertimbangkan untuk memberikan bekal untuk guru-guru di Indonesia untuk semakin kreatif di saat-saat pandemik seperti ini. Bukan hanya akan bermanfaat saat pandemik ini, tapi juga untuk pandemik di masa yang akan datang.