Tiada hari tanpa membaca”. Istilah inilah yang cocok menggambarkan keadaan murid-murid SDN 5 Bambangan, Kab. Majene, Sulawesi Barat sejak diresmikannya Perpustakaan Ramah Anak dari Taman Bacaan Pelangi pada Juni 2025 tahun lalu. Menurut pengamatan guru, setiap hari murid-murid antusias datang ke perpustakaan untuk membaca buku, baik saat jam kunjung wajib yang sudah ditetapkan jadwalnya, maupun pada jam-jam bebas seperti saat jam istrahat. Hal ini juga terlihat dari data peminjaman bulanan sekolah dimana setiap siswa meminjam 3-5 buku setiap bulannya.

Ibu Fajriah, salah satu guru di SDN Bambangan yang selalu rutin membersamai siswa perwaliaannya di kelas 2 untuk membaca di perpustakaan. Beliau mendampingi murid-muridnya untuk membaca buku di perpustakaan setiap hari senin sesuai dengan jadwal jam kunjung perpustakaan. Kegiatan yang dilakukan bevariasi, ada kegiatan membaca lantang, membaca bersama, membaca berpasangan, hingga membaca mandiri untuk siswa-siswanya yang sudah lancar membaca.

Selain membaca buku-buku fisik, di perpustakaan SDN 05 Bambangan juga sudah dilengkapi dengan buku-buku digital. Pada Oktober 2025, Ibu Fajriah bersama guru-guru SDN 5 Bambangan lainnya mengikuti pelatihan Digital Library bersama Taman Bacaan Pelangi. “Kegiatan pelatihannya berlansung selama 3 hari dimana saya belajar tentang buku digital itu apa, bagaimana cara untuk mengakses buku digital, paltform apa saja yang digunakan, cara membuat akun pada setiap platform buku digital, hingga praktek kegiatan membaca dengan menggunakan buku digita” tuturnya.

Selain simulasi dengan sesama guru, Ibu Fajriah juga berkesampatan untuk melakukan simulasi kepada murid-murid perwaliannya. “Ini sangat menyenangkan saat melihat murid-murid begitu antusias mengoperasikan perangkat tablet untuk membaca buku digital. Ini pengalaman pertama bagi mereka. Ternyata buku-buku bacaan juga bisa diakses melalui perangkat elektronik seperti tablet ataupun handphone” sambungnya.
Saat mengenalkan salah satu platform buku digital yaitu aplikasi Let’s Read kepada siswa, ternyata sebagian besar murid cepat mengerti. Mulai dari bagaimana cara membuka aplikasi, memilih buku yang akan dibaca, memperbesar/memperkecil tulisan, mengubah latar warna pada tulisan, hingga menutup kembali aplikasi tersebut. Walau demikian, sebagai seorang guru harus selalu mendampingi mereka saat sedang membaca buku digital dan memastikan bahwa semua siswa sudah membuka buku bacaan.

Kini, hampir 3 bulan berjalan, kegiatan membaca dengan buku digital menjadi salah satu aktivitas yang rutin dilakukan bersama siswa saat jam kunjung perpustakaan. Dalam sebulan, Ibu Fajriah melakukan kegiatan membaca bersama siswa dengan buku digital sebanyak 2 kali. “Saya melihat siswa semakin termotivasi untuk membaca karena buku-buku pada aplikasi maupun platform buku digital lainnya menyediakan lebih banyak pilihan buku. Selain itu, tentunya kemudahan akses juga dirasakan oleh siswa saat membaca buku digital. Kegiatan yang sangat menyenangkan, karena seperti bermain gawai tetapi dikemas dalam bentuk yang lebih edukatif”.

Program Digital Library ini menjadi pelengkap untuk menggencarkan aktivitas literasi yang menyenangkan di perpustakaan sekolah. Selain membaca dengan buku fisik, siswa juga mendapatan pengalaman secara lansung untuk mengakses ribuan buku digital dengan mudah dalam satu perangkat.






